|| Blue Sky ||

Eversince I stood under the deep blue skies, I felt like I needed someone by my side…but no one was there. So I took your hand…

A Love Letter, addressed to You.

December27

For it was you who brought me here, rising as the water shallows. You smiled, while I was trying to reach up the skies within one jump, but I failed. My foot tied up with your hands. As we let our eyes to slowly dig our soul through the heavy fog. Sun wouldn’t show itself as he is hiding behind those thick clouds, rain wouldn’t even dare to touch me. A slight feeling passed through my head, telling me to reach you, although you might not want to. Your eyes resemble the deep blue oceans while the skies are widely open. How could I reach you if I let myself to drown inside yourself, I would be lost, inside the deep blue sea.

Silence, is what I speak, down beneath my heart I slowly screamed. I placed my hands on your shoulders, and leaned my forehead on yours, slowly. As I carefully closed my eyes and whispered “Do you not look at me while I try to reach you in silence?”. You gradually let go of my foot and said “I’ll taste the skies you’ll reach, over the clouds, pouring the air with your scent…..how could I ask for more?”. I slightly felt weightless, as my heart started pounding, over and over again. Your mouth, your lips, fell to mine, another horizon inside me started to rise and as the cold wind blows heavily, I started to wander inside your deep blue thoughts. The water was fine, until I reached the bottom of the sea, it was dark. I could barely see a thing, but then you wrapped your hands around me, and closed your eyes. I see nothing, but I feel you, floating. A single night without your breath would tear myself apart, from all the nothingness and emptiness I recently fell on.

Perfect, a word that lays on my tongue every time I stood in front of you, an immediate ignorance towards your feelings against me. It’s almost impossible for me to counteract this agnostic and paradox thoughts and sometimes, I felt like being the only one in this world neglecting my own opinion.

“What do you value more?” I asked.

He moved back 2 cm away, and somehow his eyes tried to push itself away from me. Alienisms, a perfect word to describe how you started to look at me. A glimpse of snow fell on my nose.

Catatan untuk si Mangsa part II

August31

Siang itu aku berteduh dibawah pohon yang rindang, matahari begitu terik sehingga aku hanya dapat menikmati hari hari dengan tidur sepanjang hari. Aku masih kenyang, semalam aku memakan seekor mangsa yang kebetulan sedang lengah bermain didekat danau. Rasanya hidup ini begitu membosankan. Itu-itu saja yang ku lakukan. Tapi apa boleh buat, mungkin memang itu sudah takdirku. Seperti layaknya matahari, ia menyinari bumi dan memberikan kehidupan, itu lah tugasnya. Tugasku? Hidup dan memburu. Aku tak pernah mengkasihani apa yang telah ku santap, karena bagiku mereka hanya pemberian alam kepadaku, dan harus ku terima. Persetan dengan kehidupan mereka, aku berhak memakan mereka!

Hari pun berganti, aku masih merasa bingung, dan bosan. Sesungguhnya aku masih menikmati apa yang biasa kulakukan tiap hari, namun masih ada yang mengganjal di dalam pikiranku.

Si bulu-bulu halus itu.

Ingin rasanya menolak takdir. Nafsuku untuk memakannya menghilang begitu saja, entah kenapa, namun aku sudah tidak memandangnya sebagai mangsaku.

Lebih baik malam ini aku menghampirinya.

Kali ini, langit begitu cerah, bintang menghiasi langit malam nan luas itu dengan percikan cahayanya yang indah. Aku hanya dapat menatap langit, sambil menunggu si jemari kecil itu untuk muncul, bersama kawan kawannya. Aku berbaring dan kemudian aku mulai mengantuk, lebih baik aku tidur saja. Aku pejamkan mataku ini, namun tiba2 aku mencium bau yang sangat wangi. Apakah itu si jemari mungil?

iya. ternyata itu kamu. Mengapa kali ini kau seorang diri?

Mungkin aku lebih baik diam saja dan memperhatikanmu dari jauh. Mungkin itu lebih baik. Malam terasa begitu sejuk ketika melihatmu berada didekatku, aku, ingin maju selangkah.

Aku berdiri secara perlahan, mungkin itu akan sedikit membuatmu lebih tenang.

…..

Dan aku berhasil, aku kira kau akan pergi seperti biasanya.

Kau memandangku seakan aku ini tidak asing bagimu, detak jantungmu mulai tenang. Aku pun merasakan suatu kedekatan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku ingin sekali, maju satu langkah.

Akankah kau maju ketika aku mendekatimu?

Is this what I’m trying to say?

August27

You’re not a fish

No. You’re Not.

You’re… Soft

and

free

That’s why I’m feeling so

insecure whenever you

roam around,

and live your life.

Without noticing

I’m here, right beside you.

All the time.

Catatan untuk si Mangsa part I

August16

Kalau saja engkau ingin mengintip apa yang terjadi di alam dimana aku hidup, kau pasti akan senang. Berburu, menyerang, tidur, bermain, berlari.
Bulan menyinari malamku dengan terangnya. Malam begitu dingin bagiku, aku pun selalu berfikir apa yang harus aku lakukan agar tidak lagi merasakan dinginnya malam.

Aku menciumnya! Wangi seekor mangsa yang denyut jantungnya dapat kudengar walau aku jauh darinya. Aku berlari dan terus berpacu mengikuti wangi mangsa tersebut. Aku bersembunyi agar kau tak dapat merasakan kehadiranku. Kau sangat hangat, iya, aku dapat merasakannya, bulu-bulu putih yang lembut itu seakan membuatku ingin menyantapnya. Kau sangat lemah, kau dan teman temannya. Aku tak sabar ingin menerkam apa yang ada didepan hadapanku ini. Aku ingin sekali menyerangmu, namun kau terlalu asyik bersama teman-temanmu. Aku tak berani menyerangmu, kalian terlalu banyak. Aku menyerah, untuk sekarang.

Esok paginya, aku berdiri tepat dimana kau berada semalam. Aku membayangkan sosokmu berada dalam genggamanku, dan siap aku santap. Namun, bulu bulu itu terlalu halus sehingga aku tak tega untuk menyerangmu. Kau terlalu lembut untuk aku makan. Tapi mangsa adalah mangsa, aku tidak boleh membandingkan kamu dengan lainnya, kau tahu itu kan?

Tergoda dengan sosok yang lembut itu membuat aku ingin sekali melihatnya lagi, tentunya diam diam. Alangkah indahnya apabila aku dapat mengunyah daging yang kenyal nan hangat itu? Pasti darahmu sangat manis, sehingga aku tidak dapat berhenti menyantapmu, oh mangsaku.

Malam pun tiba, aku bergegas mencarimu, dimanapun kamu berada, aku dapat mencium bau itu. Kau tidak jauh, kau berada didekatku. Ternyata disitulah dirimu, mangsaku. Namun kau masih saja dengan kawan-kawanmu, aku tidak berani menghampirimu. Aku ingin maju lebih sedikit agak dapat memperlihatkan sosokku yang sangat menyeramkan ini, namun aku takut kau akan lari, lari secepat angin. Mungkin aku seharusnya memang hanya bisa memantaumu diam diam.

Jemarimu begitu kecil sehingga aku ingin sekali mengunyahnya, pasti akan sangat lezat apabila aku memakannya malam ini. Pernahkah kau berfikir sedikitpun bahwa ada yang memikirkan mu diluar sana? Dimana ia seharian memikirkan cara hanya untuk berjumpa denganmu? Mungkin kamu hanya memikirkan apa yang ada di depan kamu, tidak memikirkan apa yang sebenarnya ada diluar sana. Aku hanya bisa menunggu sampai kamu bisa merasakan kehadiran ku setiap malam, aku yang selalu memantau mu, menunggu.

Hingga suatu hari, aku memberanikan diriku untuk memperlihatkan sosokku ini. Aku sudah tak tahan, aku ingin kau segera mengingatku walau kau akan lari! namun kau tidak lari, kau hanya menatapku dalam dalam, tetapi  teman temanmu tiba tiba  menarik kembali perhatianmu. Sungguh aku merasa sangat tidak berdaya dengan keadaan ini, mengapa kau tidak ingin melihat ku lagi? Apakah aku hanya angin lewat bagimu? Aku menyerah. Aku lelah.

Sesampai diriku ke tempat dimana aku biasa merebahkan badanku yang sudah lama tak menikmati apa yang dulu biasa aku lakukan, aku jadi merasa begitu lemah. Berlari ke puncak, berburu mangsa, berbaring dibawah matahari, semua itu sudah tidak ada artinya bagiku. Sosokmu sudah meracuni pikiranku, aku yang selalu ingin terlihat kuat nan acuh, kau rusak semua barikade itu hanya dengan membawamu ke dalam pikiranku ini. Kau begitu kuat, walau terlihat lemah. Apa yang terjadi ? mengapa aku jadi sangat lemah? Aku ditakdirkan dan dilahirkan sebagai mahluk alam yang kuat dan menyeramkan, mengapa aku kini menjadi mahluk yang tidak memiliki daya juang.

Kini alam tak begitu penting bagiku. Sinar yang pernah menerangi jalanku ketika malam tiba pun tak lagi jadi penolong ketika gelap menyerang, karena sosokmu lah yang menerangi pikiranku. Lagi lagi saya merasa bingung, mengapa mahluk buruk rupa dan menyeramkan seperti aku ini lemah hanya terhadap sang mangsa yang sesungguhnya tak memiliki arti bagiku, karena ia adalah santapanku. Namun, ia begitu lembut. Ingin ku lahap badannya sekaligus, aku ingin sekali. Andai saja aku tak terlihat, maka aku akan menerkammu kapanpun yang ku mau.

Tunggu, aku memang tak terlihat, bukan? Kau tak akan pernah memperdulikan sosokku ini, bukankah begitu, mangsaku?

Akan kucoba untuk mendekatimu, sekali lagi.

lagi lagi. . .

April19

Sesuatu yang pernah membuat anda terbuai dan bahagia, tiba-tiba muncul kembali, mencoba untuk memperlihatkan dirinya. Sesuatu yang telah memberi anda perasaan nyaman, aman dan tentram apabila bersamanya. Apakah anda akan membuka hati anda kembali bagi sang “bidadari” tersebut?

Entah kenapa saya ingin menjadi seekor serigala buas yang dapat melindungi apa yang sudah alam berikan kepada saya. Saya ingin memiliki dan menjaga baik-baik, bahkan saya ingin jauh lebih baik dari bidadari itu.

Tapi apakah pemberian alam tersebut dapat merasa lebih bahagia disekitar sang serigala nan buas itu dibandingkan berada di pelukan sang bidadari yang baik dan lemah lembut?

Claire de Lune

December23

…you’re my light when I’m lost in the dark.

 

You’re my moonlight.

 

shines brightly. Sprinkles me with your glittery light.

 

A source of light that only darkness can’t beat.

 

apart from the stars around you…

 

you shine the brightest…