|| Blue Sky ||

Eversince I stood under the deep blue skies, I felt like I needed someone by my side…but no one was there. So I took your hand…

Keteledoran Kompas

January27
Suatu ketika, nyokap gw tiba2 nelfon gw pagi2…seperti biasa, pasti nanyain kabar dll..
Gw: Halo….(nada ngantuk serek2)
Mama: Kamu udah baca kompas nit, bagian seni nya?
Gw: (ah, seperti biasa, pasti nyokap ngasi update event seni/pameran) Gak, kenapa?
Mama: Ini ada artikel, mama sampe kaget kok ada ya tulisan kayak gini..
Gw: …huh?
Mama: ……(dan nyokap menjelaskan..)
Mohon perhatikan kalimat yang saya BOLD, kalau bisa baca secara keseluruhan.
Yang Keren dan Terkendali

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images
Pameran Bandung Art Now di Galeri Nasional, Jakarta.

Minggu, 11 Januari 2009 | 03:00 WIB

Wicaksono Adi

Siapa pun yang rajin nonton pameran seni rupa kontemporer tak akan heran ketika melihat karya seni yang terbuat dari benda sehari-hari seperti kursi, batu bata, lampu kelap-kelip plus efek ini itu, foto-foto, tulisan dan gambar oret-oretan di dinding, barang-barang bekas (asli dan tiruan), atau tayangan video yang berisi potongan-potongan adegan yang diulang-ulang dan sejenisnya.

Benda-benda yang dirakit dalam bentuk tertentu itu lazim disebut seni instalasi. Almarhum Profesor Sudjoko punya istilah ”seni pepasang” buat seni semacam itu. Belakangan anggapan seni instalasi muncul lantaran para seniman tidak puas dan tidak percaya lagi terhadap media atau segala wujud artistik kuno yang disebut ”seni murni”. Bagi mereka, seni rupa dapat dibuat dari apa saja dan dapat berlangsung di mana saja: ruang pameran, ruang makan, tempat tidur, jalan raya, etalase, kamar mandi, layar komputer, pematang sawah, tepi sungai, kuburan dan sebagainya dan sebagainya.

Tubuh, politik, mistik, metafisika, ice cream, jazz, dangdut, jender, iklan sabun, dan demo masak dapat ditampilkan secara serempak tanpa perlu takut apakah semua percampuran itu nyambung atau tidak. Bukankah dunia kita hari ini memang tampil dalam bentuk serpihan yang fragmentatif, penuh ambiguitas, kontradiksi, dan paradoks? Bukankah semua hal di sekeliling kita nongol begitu saja, satu sama lain banyak yang enggak nyambung? Lalu bagaimana merangkum segala yang acak-acakan, saling bertentangan, terpotong-potong dan muncrat sana sini itu dalam karya seni?

Sebagian seniman menjawab: ”Ya sudah, tampilin saja segala yang enggak nyambung dan berserakan itu sebagaimana adanya. Enggak perlu dipoles-poles”. Dan seniman lain yang memuja laku penciptaan seni rupa sebagai upaya untuk keluar dari kebuntuan ”seni murni” akan bilang: ”Menciptakan seni dengan mengembangkan berbagai elemen baru semacam itu bukan perkara sepele. Ada banyak alasan untuk melakukannya, termasuk kebutuhan seni untuk merepresentasikan realitas sekaligus tidak terjebak pada bentuk-bentuk representasi yang justru membatasi realitas itu sendiri”.

Bagi mereka penggunaan serbamedia dalam seni rupa selain untuk merangkum serbarealitas yang silang sengkarut acak-acakan enggak keruan, juga didorong oleh tendensi tertentu yang mengacu pada faktor-faktor dominan dan dianggap penting dalam art world yang melingkupinya, termasuk kebutuhan pasar.

Keyakinan semacam ini biasanya berlaku pada seniman kontemporer yang sudah mapan. Kebanyakan dari mereka adalah lulusan ISI dan tinggal di Yogyakarta yang cenderung berkarya dalam situasi mbentoyong alias terbungkuk-bungkuk memanggul beban estetik tertentu. Tapi semangat mbentoyong itu tidak selalu diikuti oleh pemahaman yang memadai mengenai wacana seni rupa kontemporer itu sendiri. Seniman Jogja memang cenderung memiliki skill yang oke, tapi mereka biasanya hanya mengandalkan bakat alam. Minat baca mereka tergolong rendah.

Dan ketika melihat beberapa pameran seniman muda Bandung saya melihat bahwa mereka lebih rileks dan enggan mendramatisir tendensi atau beban kesenimanan semacam itu. Seniman muda Bandung cenderung tidak mbentoyong. Tapi bukan berarti mereka tak peduli dengan berbagai terobosan yang dibuka oleh perkembangan paradigma estetik terkini. Minat baca mereka relatif lebih baik ketimbang seniman Jogja.

Sikap rileks itu kembali tampak pada pameran Bandung Art Now (Galeri Nasional, Jakarta, 7-17 Januari 2009). 26 seniman (individu dan kelompok, mayoritas belajar seni rupa di ITB) rame-rame datang ke Jakarta di bawah komando kurator Aminudin TH Siregar. Pada acara pembukaan datang juga kontingen berduyun-duyun menyewa banyak bus hingga Galeri Nasional penuh sesak oleh anak-anak muda gaul dan kul dan keren. Ada kurator Rizki A Zaelani sebagai bapak guru yang gemuk (dan suka menulis dengan mengutip buku-buku bahasa Inggris), lalu seniman-kurator Asmudjo J Irianto sebagai dosen yang sangat gaul (dan suka nongkrong di mal), pake topi dan kacamata model anak band masa kini.

Suasana gaul

Di kampus ITB para kurator dan dosen muda ini membawa suasana gaul ke ruang kelas, asyik berbaur dengan para mahasiswi yang mirip cover girl seperti Syagini Ratnawulan (yang juga sangat akrab dengan pemikiran mutakhir model filsafat posmo dan buku-buku seni terpenting). Sebagian dari mereka memperlakukan berbagai pemikiran berat itu sebagaimana mengunyah permen atau menelan ice cream.

Tentu tampang mereka berbeda dengan seniman Jogja yang biasanya anak petani atau keluarga agraris pedalaman. Begitu masuk ISI jadi gondrong dan bulukan supaya dapat menggaet cewek-cewek bule. Mimpi mereka cuma satu: pengin jadi seniman kaya model mbentoyong tadi. Kalaupun mereka menggarap tema-tema yang lagi ngetren dan mengolah bahasa pop, biasanya didasari oleh tendensi estetik dalam bentuk wacana ini itu yang belum tentu mereka mengerti dengan baik. Kultur kota dan pop pada dasarnya memang bukan bagian hidup mereka.

Sementara bagi sebagian seniman muda Bandung segala ihwal kebebasan ekspresif model gaya hidup pop (beserta segala kemungkinan bahasa visual kota yang artifisial) sudah menjadi makanan sehari-hari. Banyak anak muda Bandung (termasuk kelompok-kelompok indie) yang fasih menggunakan bahasa pop perkotaan menjadi karya-karya ekspresif dalam cakupan yang lebih luas. Sebagai seniman berlatar belakang akademi (seni rupa ITB) mereka memiliki modal yang cukup buat merayakan kebebasan model anak muda perkotaan yang ngepop sehingga dengan enteng dapat mengolah serbatema dan serbamedia menjadi karya-karya yang segar.

Kita menyaksikan Faisal Habibie dan Syagini yang enjoy mendistorsi bentuk, evidensi, dan fungsi kursi, Yusuf Ismail dengan video ”Ketik REG Spasi”—bagi siapa saja yang pengin jadi seniman kaya—sebagai sarkasme terhadap maraknya jasa paranormal atau konsultasi ini itu lewat SMS di televisi (dengan model kurator Rifky Effendi sebagai si paranormal). Lalu kelompok Tromarama yang bikin video instalasi di ruang kelas (anak-anak), JA Pramuhendra yang membuat gambar charchoal di kanvas ukuran besar, Dendy Darman dengan tumpukan kontainer (Nevergreen), Prila Tania dengan serial fotografi, dan lain-lain.

Kurator Aminudin TH Siregar bilang, ”Secara umum tema karya-karya mereka bertolak dari keresahan personal. Kendati demikian, cara meramu permasalahan keseharian masing-masing di situ merupakan hasil dari persinggungan mereka dengan problematika sosial umum yang tengah berlangsung di Indonesia…juga menghadirkan sisi lain dari kerumitan memahami identitas—untuk menjalani hidup di tengah berbagai perubahan di Tanah Air yang demikian cepat.

Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Tapi yang lebih menarik adalah ketika melihat bagaimana para seniman muda Bandung itu berusaha melakukan ”kontrol” terhadap kerumitan batas-batas representasi dari realitas yang campur aduk, terpecah-pecah, dan menyebar seperti fragmen-fragmen yang saling bertentangan dan kadang saling berkelindan menuju penyesuaian dan keseimbangan tertentu tapi pada saat lain menggumpal tak tertembus. Di sana-sini tercium juga aroma teror dari karya-karya mereka. Tapi aroma itu tak terlalu tajam. Tak ada yang berderak brutal di situ. Juga tak ada kengerian yang bikin gemetar.

Semuanya masih mungkin untuk ”dikontrol”. Hampir semua karya dibuat dengan penuh perhitungan. Lantai dan ruang galeri terasa bersih dan terukur. Segala potensi ambiguitas, absurditas, paradoks, ketidakpastian, dan kehampaan makna ditangani secara rileks tapi terkendali. Saya tak tahu kenapa para seniman muda yang kul dan keren itu kini jadi tampak jinak dan tertib. Entahlah. Tapi karier mereka masih panjang. Semoga mereka tidak akan jadi seniman model Jogja yang agraris tapi sok keren dan meng-kota, tapi enggak nyampe itu.

Wicaksono Adi Kritikus Seni

You get what i mean ? Gw cuma bisa bilang, kenapa tulisan macem gini ngga di review lagi sama kompas?

2 minggu kemudian

Gw: halo…
Mama: nit kamu tau ga, yg di kompas 2 minggu lalu? ada seniman asal yogya bales artikelnya si Wicaksono Adi.
Gw: WTF NITA PENASARANNN O_O

Yang “Mbentoyong” yang Keren, “Euy”…
Minggu, 18 Januari 2009 | 01:50 WIB

Yuswantoro Adi

Bayangkan jika seniman- kurator Asmudjo J Irianto yang sangat gaul itu tidak pake topi dan lupa berkacamata model anak band masa kini. Maka ia tampak sangat agraris pedalaman dan sama sekali tidak keren. Meski memaksakan diri setiap hari nongkrong di mal. Bayangkan pula jika pelukis kaya raya Nasirun yang pernah kuliah di ISI Yogyakarta tiba-tiba rapi, necis dan wangi serta menyetir sendiri mobil mewahnya. Keren bukan? Bukan seperti yang kita kenal selama ini hitam, dekil, gondrong awut-awutan, dan enggak pernah bisa nyetir. Tentu apabila Nasirun mau, bisa rajin ke salon untuk manicure-pedicure, spa, whitening, dan aneka perawatan lainnya. Bahkan ia bisa membayar kursus privat sekolah kepribadian, sekolah mengemudi, bahasa Inggris dan anger management sekaligus. Maka Nasirun tidak bakal ketahuan karakter agrarisnya meskipun sejatinya ia anak petani pedalaman.

Kampungan atau ndeso atau penampilan agraris sudah bukan saatnya lagi diperbanding-bandingkan dengan kota yang keren, gaul, cool atau semacamnya, apalagi ketika membicarakan seni rupa kontemporer Indonesia. Dikotomi naif macam itu, masihkah diperlukan? Bahkan mengulik perbedaan mazhab (masihkah ada?) antara Jogja-Bandung pun telah tiada relevan lagi. Mengenai seni rupa; hal utama yang harus diperhatikan adalah bukan rupa si perupanya melainkan soalan rupa karya alias visualnya. Selain itu, tidak boleh dilupakan, seberapa cerdas tampilan rupa tersebut di-re/presentasikan. Dan benar, salah satu—bukan satu-satunya—cara menjadi cerdas adalah dengan membaca.

Membaca dan minat baca (buku/literatur) sering salah dimengerti sebagai satu-satunya ukuran untuk menentukan kecerdasan seseorang. Ia (membaca buku itu) sekadar alat yang tidak serta-merta menunjukkan hasil. Ada begitu banyak metodologi yang bisa dipilih demi menjadi cerdas. Membaca realitas adalah salah satu yang lainnya. Kecerdasan dalam seni rupa dapat dikenali dari karya seni rupa yang bersangkutan. Menjadi keren atau tidak cuma masalah penamaan. Karena sesungguhnya ukuran sebuah karya seni hanyalah baik atau buruk. Sederhana, itu saja.

Namun tentu bukan hal sederhana agar dapat menciptakan karya seni yang baik. Diperlukan berbagai kaidah dan instrumen yang harus dipelajari dan dikerjakan sebelumnya. Itu pun masih akan dipengaruhi oleh ruang, waktu, dan hal lain yang melingkupinya. Pendeknya butuh menjadi seniman yang baik agar dapat menghasilkan karya yang baik. Seniman terbaik hasilnya terbaik juga, yang cerdas menghasilkan karya cerdas, begitu seterusnya.

Agar lebih mudah dipahami. Berikut di bawah ini sebuah contoh. Seorang calon seniman memilih kuliah di ISI Yogyakarta. Tentang dari mana ia berasal, anak petani atau bukan, orang kota atau desa, kita kesampingkan dahulu. Selanjutnya sebagai mahasiswa ia harus menaati hal-ikhwal belajar-mengajar di kampusnya hingga ia dinyatakan lulus. Soal ia memilih tidak lulus atau bahkan dikeluarkan, itu soal yang berbeda. Apa pun itu, maka ia mendapatkan pelajaran berkesenian sebagaimana yang diajarkan di kampus tersebut. Ini adalah premis pertama.

Premis kedua. Karena ia tinggal di Jogja–tidak mungkin mahasiswa ISI Yogyakarta menetap di Bandung dan atau kota besar Jakarta, namun bisa setiap hari masuk kuliah, kecuali ia mampu menyewa pesawat terbang atau helikopter setiap harinya—maka sosiologi, geografi, demografi, adat budaya, dan apa pun tentang Yogyakarta pasti memberi pengaruh terhadap sikap hidup dan berkeseniannya. Kecuali jika ia sengaja menutup diri dari pengaruh di luar dirinya. Maka (lagi) gaya berkesenian, kedalaman konsepnya, siapa rekan bertukar cakapnya, siapa idolanya, pameran apa yang ia saksikan dan seterusnya tentu terpengaruh (seberapa besar atau kecil, bukan masalahnya) oleh keyogyakartaannya.

Kedua premis tersebut berlaku universal, artinya silakan mengganti ISI d/h STSRI ASRI dengan ITB, pun dengan Yogyakarta diganti Bandung. Bahkan masih berlaku seandainya kita mengandaikan seorang calon seniman warga negara Palestina yang belajar di ISNY, Institut Seni New York misalnya. Tinggal aplikasikan saja.

Premis ketiga, terakhir. Adalah soal pilihan. Katakanlah contoh mahasiswa di atas, datang dari desa nun pelosok pedalaman. Ia boleh menjadi seniman agraris sebagaimana ia berasal, boleh juga menjadi kota nan keren, tapi artifisial sebagaimana yang ia inginkan. Sekadar informasi, perupa internasional Heri Dono lahir hingga lulus SMA di Jakarta, namun tetap memilih menjadi agraris nan eksotik. Lihat penampilan kesehariannya, lebih memilih meletakkan sebarang kain etnik di rambut gondrongnya daripada memakai topi modis seperti Asmudjo. Bersandal jepit lusuh daripada bersepatu mahal laksana seorang Aminudin TH Siregar. Jalan kaki atau naik sepeda ke mana-mana daripada naik ‘Inova’-nya Tisna Sanjaya. Meskipun demikian saya haqul-yakin, Heri Dono jika mau bersolek bisa berpenampilan bak metroseksual. Bila ia berkehendak, boleh jadi lebih tampan daripada bintang film Ferry Salim. Namun dia memilih agraris lahir batin. Artinya, penampilan karya seni rupanya sekalipun tetap bersuasana bahkan berdasar pemikiran/berkonsep malah berideologi yang agraris. Sekali lagi ini masalah pilihan.

Ketiga premis alias patokan duga tersebutlah yang paling menentukan kesenimanan seseorang. Bagaimana ia menempa diri dan seperti apa hasil tempaan itulah yang boleh dijadikan ukuran baik-buruknya. Menjadi keren atau bukan adalah tidak lebih dari penyebutan setara bonus. Dan lagi arti kata ”keren” yang saya temukan dari kamus dan tesaurus bahasa Indonesia adalah; tampak gagah dan tangkas, aksi, cogah, elegan, necis, perlente, rancak, solek, elok, menawan. Bahkan kata tersebut juga diartikan sebagai; galak, garang dan lekas marah. Dengan kata lain menjadi keren itu tidak alamiah, tidak natural alias artifisial atawa dibikin-bikin. Padahal katanya kesenian merupakan ungkapan ekspresi murni kejujuran.

Jujur, harus diakui situasi dan kecenderungan mbentoyong, yang diterjemahkan secara berlebihan sebagai terbungkuk- bungkuk memanggul beban estetik tertentu, adalah produk khas Jogja atau premis kedua di tulisan ini. So what? Secara berlebihan pula, saya bertanya, bagaimana mungkin dikatakan sebagai kesenian jika tidak memiliki muatan estetik sama sekali? Mbentoyong adalah pujian yang menunjukkan betapa telah bekerja kerasnya perupa Jogja demi tanggung jawab atas kelimpahan bobot estetik yang dimilikinya. Semoga tidak berlebihan; itulah “keren” yang bisa Anda saksikan dari karya visual anak-anak Jogja. Meskipun demikian sesungguhnya perupa Jogja tidak terbungkuk-bungkuk benar. Terbukti dalam keseharian kesenimanan Jogja jika dibandingkan dengan Bandung misalnya, tak terbatas tua-muda. Jogja jauh lebih santai, rileks, ringan, dan lucu. Bandung terkesan terlalu tertib, terkendali, serius, dan selalu ingin terlihat cerdas. Jogja tak lagi ingin terlihat karena ia sudah jelas kelihatan.

Ah, kenapa saya jadi ikut-ikutan bermain banding-bandingan? Perbandingan menjadi akurat dan perlu manakala keduanya (obyek dibandingkan) memiliki ukuran yang pasti, setidaknya ada parameter yang sama dipakai kedua obyek tersebut. Disiplin seni bukan ilmu pasti, bahkan ia jauh lebih sosial daripada ilmu sosial. Dalam keriuhan pasar dan belum jelasnya parameter yang disepakati bersama ini, adalah tidak bijaksana memperbandingkan selanjutnya secara gegabah menilai hasil komparasi dipaksakan tersebut. Lebih parah lagi semua hal itu dilakukan oleh pemuda agraris yang silau dengan gemerlap kota dan kepincut untuk memikat dan atau menjadi bagian yang sesungguhnya artifisial belaka. Bahwa setiap lokal, lokasi, lokalis, lokus, dan lokalisasi punya sifat dan karakter tersendiri, namun mereka bukanlah bahan dasar untuk menempatkannya sebagai stereotype.

Nyatanya seorang Tisna Sanjaya yang orang Bandung tulen menggunakan jengkol, anyaman bambu, air, arang yang agraris dan dikemas alias “dibunyikan” dengan pendekatan agraris pula. Sebaliknya, Samuel Indratma yang pemuda asli Gombong kemudian kuliah tanpa pernah lulus di Jogja membuat mural (aktivitas seni yang sama sekali tidak agraris, justru sangat urban) di tembok-tembok kota. Menurut pengakuannya ia pernah membuat mural di San Francisco, Amerika Serikat sana.

Ada persoalan yang jauh lebih darurat di seni rupa, untuk apa buang energi memikirkan urusan remeh-temeh? Setiap ruang, setiap waktu pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tak ada guna saling menghina, mari saling membina. Ayo bermain kritik bukan cerca. Lupakan dari mana kau berasal, bersama atau kepada siapa kau belajar, tak ada yang tak mungkin untuk dikejar, karena sesungguhnya seni itu universal.

Yuswantoro Adi, Pelukis tinggal di Yogyakarta

Jujur, kuping gw panas ketika baca kedua artikel tersebut, tapi siapa dulu yang memulai Api tersebut?
Click Here

…dan sekarang nyokap gw nyimpen kedua klipping tersebut.

Out Of Topic: Ternyata nyokap selalu ngumpulin kliping tentang seni, betapa besarnya keinginan nyokap untuk melihat gw jadi seniman sukses…(amin) Nyokap selalu cerita ttg pak Tisna dan kehidupannya, sebagai seniman sekaligus dosen. ya Allah, semoga doa orang tua ku terkabulkan… Saya ingin melihat mereka bahagia… Amin